Pertamina Patra Niaga Perkuat Komitmen Hijau, Program Dekarbonisasi Kilang Jadi Garda Terdepan Energi Bersih
Jakarta, 23 April 2026 – Dalam rangka Hari Bumi, PT Pertamina Patra Niaga (PPN) kembali mempertegas perannya dalam mendukung target nasional Net Zero Emission (NZE) 2060. Hingga akhir Triwulan I 2026, Pertamina Patra Niaga sukses merealisasikan program dekarbonisasi di kilang hingga mencapai 95 ribu metric Ton CO₂ eq.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M.V. Dumatubun, menjelaskan bahwa tren dekarbonisasi ini meningkat tajam setiap bulannya, “Pada Januari, realisasi tercatat sebesar 28 ribu metric ton CO₂ eq, kemudian naik menjadi 63 ribu metric ton CO₂ eq, pada Februari, hingga menyentuh angka 95 ribu metric ton CO₂ eq di bulan Maret.”
Roberth menegaskan, capaian ini mencerminkan konsistensi Pertamina Patra Niaga dalam menjalankan strategi dekarbonisasi. Upaya tersebut dilakukan melalui efisiensi energi dan penerapan inovasi teknologi, khususnya yang berasal dari kilang, sehingga mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pengurangan emisi karbon nasional.
“Realisasi program dekarbonisasi Pertamina Patra Niaga di Triwulan I 2026 meningkat signifikan. Ini merupakan bukti nyata, bahwa upaya yang kami lakukan terukur dan menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan,” ujar Roberth.
Dalam upaya mengurangi emisi karbon di kilang, Pertamina Patra Niaga menjalankan sejumlah langkah efisiensi dan strategi inovatif. Salah satunya adalah digitalisasi operasional kilang melalui penerapan digital twin dan sensor Internet of Things (IoT). Teknologi ini memungkinkan pemantauan proses produksi secara real-time sekaligus mengurangi downtime. Kombinasi keduanya menjadikan kilang lebih hemat energi, ramah lingkungan, dan berkontribusi nyata terhadap realisasi dekarbonisasi.
Selain itu, Pertamina Patra Niaga juga menerapkan teknologi Carbon Capture & Utilization (CCU), yang berfungsi menangkap CO₂ dari proses produksi untuk dimanfaatkan kembali di industri lain. Unit CCU telah diimplementasikan di Kilang Balikpapan sebagai bagian dari proyek Refinery Development Master Plan (RDMP).
Strategi dekarbonisasi lainnya adalah penerapan Flare Gas Recovery System (FGRS). Melalui teknologi ini, gas hasil pengolahan minyak yang biasanya dibakar di flare dapat dimanfaatkan kembali, sehingga emisi karbon dari pembakaran gas sisa dapat ditekan.

Pertamina Patra Niaga juga memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk mendukung operasional kilang. PLTS telah dipasang di Kilang Balikpapan, Dumai, Plaju, Cilacap, dan Balongan dengan total kapasitas mencapai 12,37 MWp. Menurut Roberth, penggunaan PLTS mampu menurunkan beban operasional kilang dan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) yang merupakan bagian dari komitmen kami dalam penggunaan energi bersih dan berkelanjutan,” jelas Roberth.
Roberth menambahkan, serangkaian inovasi dan efisiensi energi dalam proses produksi di kilang juga merupakan bagian dari usaha nyata Pertamina Patra Niaga dalam menyelamatkan bumi dari kerusakan. Dari hal tersebut lahirlah beragam produk rendah karbon, seperti Pertamina SAF, Pertamina RD (HVO), Pertamax Green, dan Biodiesel (B40).
Realisasi dekarbonisasi yang positif di awal 2026 membuat perusahaan semakin optimistis untuk mengejar target kumulatif dekarbonisasi hingga akhir tahun, yakni sebesar 500 ribu metric ton CO₂ eq. Menurut Roberth, Pertamina Patra Niaga akan terus memperkuat program-program dekarbonisasi sesuai dengan prinsip ESG (Environmental, Social & Governance), sehingga kontribusi terhadap pengurangan emisi karbon nasional dapat semakin nyata dan berkelanjutan.
“Inovasi teknologi di kilang Pertamina Patra Niaga bukan sekadar pembaruan operasional, melainkan strategi jangka panjang untuk menyeimbangkan kebutuhan energi nasional dengan komitmen lingkungan. Produk rendah karbon seperti Pertamina SAF, Pertamina RD (HVO), Pertamax Green, dan Biodiesel (B40) adalah bukti konkret dari komitmen hijau kami,” tutup Roberth.
